MENGENAL LEBIH DEKAT SOSOK DARI ALM R. MALADI

INDONEWS, Jakarta - Nama dari Alm Raden Maladi adalah salah satu nama yang berada paling depan jika kita berbicara tentang persepakbolaan Indonesia pada era kemerdekaan. Ia bisa disejajarkan dengan Soeratin Soesrosoegondo dan Maulwi Saelan sebagai figur-figur dari sepak bola yang berjasa pada era kemerdekaan Indonesia.
Dalam melawan penjajah Belanda, Raden Maladi tercatat sebagai salah satu Komandan dalam pertempuran Empat Hari di Solo, Agustus 1949. Maladi sendiri kemudian mendapat pangkat kapten saat tentara nasional bertransformasi jadi TNI.
Karier dari Raden Maladi di dunia ketentaraan sebenarnya dimulai pada tahun 1940. Maladi bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) saat perang melawan Belanda terjadi.
Bukan cuma diatas rumput hijau yang menjadi "lapangan bermain" dari Raden Maladi , tetapi memang sampai pada dunia politik hingga musik nusantara pun tercatat nama dari beliau. Ya, selain kiper pertama tim nasional Indonesia, Raden Maladi juga adalah Menteri Penerangan (1959-1962) dan Menteri Pemuda dan Olahraga (1964-1966) pada era zaman Presiden Soekarno.
Di lapangan musik, Raden Maladi pula yang menggagas nama "Lokananta" sebagai nama untuk studio legendaris di Indonesia. Lokananta yang berada di kota Solo, dibangun pada 29 Oktober 1956. Nama Lokananta sendiri berasal dari dunia pewayangan yang berarti gamelan milik khayangan bersuara merdu.
Maladi sendiri diketahui memang menyukai musik terutama keroncong. Dua lagu pernah diciptakan pria kelahiran 30 Agustus 1912 yaitu Di Bawah Sinar Bulan Purnama dan Nyiur Hijau.
Kiprah Maladi di dunia sepak bola tetap berlanjut meskipun tak lagi berprofesi sebagai kiper timnas. Nama dari Alm Raden Maladi juga tercatat pernah menjadi Ketua Umum PSSI pada era tahun 1950-an hingga pada tahun 1959-an.
Dibawah kepemimpinan Raden Maladi, timnas Indonesia sempat mengambil bagian dalam beberapa turnamen resmi maupun persahabatan tingkat Internasional. Salah satunya adalah Olimpiade Melbourne pada tahun 1956.
Karena jasanya yang besar pada Indonesia khusunya kota Solo, nama Maladi lalu dilekatkan pada Stadion legendaris kota Solo, Stadion Sriwedari. Hal itu diresmikan pada 4 Agustus 2003.
Raden Maladi akhirnya wafat di Jakarta pada 30 April 2001 di usianya yang ke 88 tahun.
Komentar
Posting Komentar